Saat ini dimana mungkin waktu
yang sangat tepat bagiku untuk memulai jalan sendiri tanpa seseorang yang
sempat hadir dihidup ini selama aku menginjakan kakiku di bangku perkuliahan di
Jakarta. Belajar berhenti tergila-gila dengan glamornya kota nan padat ini semenjak
jaman sekolah dulu. Tapi ternyata aku belum bisa melupakan kenangan indah di
kota ini dengan teman-temanku terdahulu. Aku belajar mencintai kehidupan baruku
ini dengan sekelompok wanita yang tangguh. Tapi pada saat itu aku tidak ingin
membuka tabir kehidupan cinta yag baru, karena aku memiliki niat bersungguh-sungguh
untuk tidak mencicipi nikmatnya cinta dibangku kuliah ini. Ya, mungkin itu
terlalu munafik, buktinya aku tidak bisa terus menutup hati saat bertemu
dengannya. Aku tidak tahu asal cinta itu datang dari mana sampai pada saatnya
aku bisa mulai menyukainya. Mulai dengan satu kata yang amat sangat mudah,
komunikasi. Ya itulah awal mulanya, sangat sederhana namun sangat indah bagiku
bila kuingat kembali. Semua berawal dengan sangat sederhana, namun itu begitu
indah dirasa. Hari-hari semakin berlalu, aku semakin menikmati hari-hari yang
aku tidak tahu akan sampai kapan aku selalu dibalut dengan mimpi indah itu. Masih
sangat nyata didalam ingatan bagaimana semua proses itu berjalan dengan tahap
demi tahap, sedikit demi sedikit namun bergerak dengan pasti. Sampai pada
saatnya kita meyakini semua akan dijalani sampai saat pada saat yang bahagia. Hari
semakin berlalu, belum sampai setahun mimpi indah itu aku rasakan, namun
tiba-tiba dia memilih untuk mengakhiri semuanya yang pada saat itu tepat saat
bulan Ramadhan. Sakit, terpuruk, dan kesal yang aku rasa, karena aku melihat
dengan sangat nyata alasan yang sebenarnya mengapa kita berakhir. Lalu aku
jalani sendiri hidupku seperti disaat awal perkuliahan, kehidupan berjalan
normal, akupun mencoba bangkit dengan tidak menutup diri seperti waktu dulu. Tapi
ternyata takdir berkata lain, aku masih dipertemukan denganya, ya dengan cara
yang sangat amat sederhana (lagi). Mulai kembali dengan membuka pembicaraan di
siang dan malam hari dengan mengingat dan memperbaiki masa lalu. Semenjak itulah
kita kembali, tahun ke tahun kita lewati bersama, sampai terkadang kita
membicarakan hal yang diimpikan setiap pasangan yang seakan telah siap untuk
berkomitmen. Tapi aku sadar sekarang, itu tidak berarti apapun, karena
sebenarnya bukan aku lah yang dihatinya. Waktu yang cukup lama bagiku bersama
seseorang, ya 3,5 TAHUN. Aku tidak dapat menyangka dan tidak dapat mengira
dengan cermat apa yang menjadi penyebab semua ini. Dia yang memilih untuk
mengakhiri semuanya.
Saat ini aku hanya dapat
berdoa, aku bersyukur kepada Tuhanku yang telah mempertemukan kita dalam
hubungan yang sangat amat indah dan tak akan terlupakan. Aku juga bersyukur
bahwa aku masih diperkenankan memilki dirimu walau hanya sesaat. Kadang aku juga
menyelipkan doa agar semua dapat berjalan seperti biasanya apabila kita msh
berjodoh, namun apabila itu semua tidak akan terjadi aku tidak berharap lebih. Terutama
aku tahu dan melihat bahwa kau sepertinya telah menemukan yang lain.
Selamat tinggal masa lalu
terindahku, rasa ini menyesakkan dada, rasa ini membunuh mimpi ditidurku, rasa
ini menyeretku teralalu jauh dalam kesedihan. Namun aku akan bangkit
sebagaimana kau bangkit melupakan semuanya, aku janji.
No comments:
Post a Comment